Rabu 23 September 2026 - 10:24
Sayyidah Ma'sumah (sa): Sosok Wanita Penjunjung Kesucian, Wawasan, dan Kepatuhan Wilayah

Hawzah/ Imam Jumat Aran dan Bidgol mengatakan: Dalam kepribadian Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa), kesucian diri berpadu dengan kehadiran sosial, ilmu berpadu dengan pengabdian kepada Allah, masa muda berpadu dengan rasa tanggung jawab, hijrah berpadu dengan pembangunan peradaban, serta kecintaan kepada Ahlulbait (as) berpadu dengan kepatuhan pada wilayah (kepemimpinan ilahi).

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Alireza Farhang, dalam wawancara dengan wartawan Kantor Berita Hawzah di Kashan, Iran, sambil menyampaikan belasungkawa atas wafat Sayyidah Ma'sumah (sa), menyebut peringatan wafat Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa) yang menyerupai syahadah, sebagai kesempatan untuk mengkaji ulang kehidupan seorang wanita yang meski usianya secara lahiriah singkat, namun pengaruh keberadaannya begitu mendalam dalam sejarah Syiah. Ia menambahkan: sudah berabad-abad kota suci Qom, berkat keberadaan Sayyidah Ma'sumah, menjadi tempat berlindung bagi muslim Syiah dan salah satu pusat ilmiah, keagamaan, dan kebudayaan terpenting dunia Islam.

Imam Jumat Aran dan Bidgol, Iran itu dengan menyatakan bahwa Sayyidah Ma'sumah (sa) bukan hanya sosok untuk diziarahi dan dijadikan sarana tawasul, melainkan beliau adalah teladan bagi pembentukan karakter perempuan dan remaja putri muslimah dalam masyarakat Islam, mengungkapkan: dalam kepribadian beliau, kesucian diri berpadu dengan kehadiran sosial, ilmu berpadu dengan pengabdian kepada Allah, masa muda berpadu dengan rasa tanggung jawab, hijrah berpadu dengan pembangunan peradaban, serta kecintaan kepada Ahlulbait berpadu dengan kepatuhan pada wilayah (kepemimpinan Ilahi).

Hujjatul Islam wal Muslimin Farhang menyinggung kesucian diri dan kehadiran sosial Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa) dan menyatakan: salah satu pesan penting dari kehidupan Sayyidah Ma'sumah (sa) adalah bahwa kesucian diri bukan berarti perempuan menarik diri dari masyarakat, dan seorang wanita muslimah dapat tetap suci sekaligus hadir dalam dinamika perubahan sosial; ia menjaga kehormatan dirinya, namun pada saat yang sama tidak bersikap acuh tak acuh terhadap nasib agama dan masyarakatnya.

Imam Jumat itu dengan menyatakan bahwa Allah dalam ayat 79 surah An-Nur berfirman tentang kehadiran perempuan mukmin dalam masyarakat Islam:

«وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِیَاءُ بَعْضٍ یَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَیَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْکَرِ»

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain; mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar", melanjutkan: perempuan mukmin dalam logika Al-Qur'an bukanlah sosok yang terisolasi dan tidak bertanggung jawab; melainkan, sambil tetap menjaga kesucian diri dan kehormatannya, ia bertanggung jawab terhadap masyarakat dan nilai-nilai ilahi.

Hujjatul Islam wal Muslimin Farhang menyinggung kesucian diri dan kehadiran sosial Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa) dan menambahkan: Sayyidah Ma'sumah (sa) tumbuh dalam keluarga ilmu dan imamah; sebuah rumah yang menjadi sumber pengetahuan dan petunjuk bagi masyarakat; oleh karena itu, karakteristik ini membawa pesan yang jelas bagi para remaja putri masa kini.

Ia, dengan menyatakan bahwa iman tanpa pengetahuan rentan terhadap bahaya, mengingatkan: di zaman ketika ribuan pesan, gambar, dan analisis melalui dunia maya menyasar pikiran para pemuda, remaja putri muslimah lebih dari kapan pun membutuhkan ilmu, kemampuan analisis, dan wawasan.

Imam Jumat Aran dan Bidgol, dengan menyatakan bahwa Allah dalam ayat 9 surah Az-Zumar berfirman:

قُلْ هَلْ یَسْتَوِی الَّذِینَ یَعْلَمُونَ وَالَّذِینَ لَا یَعْلَمُونَ 

"Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?", menegaskan: remaja putri mukminah masa kini harus menjadi orang yang beriman sekaligus orang yang gemar belajar; harus menjadi ahli ibadah sekaligus memiliki kemampuan membedakan (yang benar dan yang salah); agar dalam pertarungan narasi dan gempuran syubhat, ia tidak kehilangan identitas keagamaan dan pemikirannya.

Hujjatul Islam wal Muslimin Farhang menyinggung masa muda dan rasa tanggung jawab Sayyidah Ma'sumah (sa) dan berkata: Beliau di masa mudanya menunjukkan bahwa menjadi muda bukanlah penghalang untuk memainkan peran besar. Terkadang muncul anggapan bahwa tanggung jawab besar itu untuk tahun-tahun kehidupan yang akan datang; padahal bagian penting dari sejarah Islam dibangun oleh para pemuda yang, di saat-saat paling genting, menyadari tanggung jawab mereka.

Imam Jumat Aran dan Bidgol, dengan menyatakan bahwa para remaja putra dan putri masa kini juga merupakan modal besar bagi masyarakat Islam, melanjutkan: masa muda bukan hanya musim kegembiraan dan angan-angan; melainkan musim untuk keputusan-keputusan besar, pembentukan diri, menuntut ilmu, dan menerima tanggung jawab; oleh karena itu, masyarakat yang para pemudanya memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga, agama, rakyat, dan masa depan negara, akan menjadi masyarakat yang hidup dan penuh harapan.

Hujjatul Islam wal Muslimin Farhang, dengan menyinggung hijrah dan pembangunan peradaban Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa), mengungkapkan: hijrah beliau bukan sekadar perjalanan keluarga, melainkan dalam perjalanan menuju saudara mulianya, Imam Ridha (as), beliau datang ke Iran dan akhirnya wafat di Qom; namun kehadiran singkat inilah yang sepanjang sejarah menjadi sumber banyak keberkahan.

Ia menyatakan: hari ini pusara suci Sayyidah Ma'sumah (sa) berada di jantung sebuah kota yang merupakan salah satu pusat ilmiah Syiah terbesar di dunia.

Imam Jumat Aran dan Bidgol, dengan menyatakan bahwa terkadang sebuah gerakan yang tulus, pengaruhnya bertahan bukan hanya untuk satu hari dan satu generasi, melainkan selama berabad-abad, berkata: Al-Qur'an Al-Karim tentang hijrah di jalan Allah berfirman:

«وَمَنْ یُهَاجِرْ فِی سَبِیلِ اللَّهِ یَجِدْ فِی الْأَرْضِ مُرَاغَمًا کَثِیرًا وَسَعَةً...»

yang artinya "Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di bumi ini tempat berhijrah yang luas dan rezeki yang banyak..."

Ia menegaskan: hijrah tidak selalu berupa perpindahan dari satu kota ke kota lain; terkadang hijrah adalah dari kelalaian menuju kesadaran, dari ketidakbertanggungjawaban menuju rasa tanggung jawab, dan dari gaya hidup yang dipaksakan menuju kehidupan yang berdasarkan identitas Islam.

Imam Jumat Aran dan Bidgol, dengan menyinggung kepatuhan pada wilayah dan keteguhan Sayyidah Ma'sumah (sa), menyatakan: mungkin pesan paling menonjol dari kehidupan Sayyidah Ma'sumah (sa) dapat dilihat dalam hubungan mendalam beliau dengan wilayah (kepemimpinan ilahi).

Hujjatul Islam wal Muslimin Farhang, dengan menyatakan bahwa kepatuhan pada wilayah bukan sekadar menunjukkan kecintaan; kepatuhan pada wilayah berarti mengenali jalan imam, memiliki wawasan dalam menghadapi fitnah, dan berteguh hati di jalan kebenaran, mengingatkan: perjalanan Sayyidah Ma'sumah (sa) menuju Khurasan terjadi pada masa ketika Imam Ridha (as) berada di Khurasan di bawah tekanan pemerintahan Abbasiyah; dari sudut pandang ini, perjalanan tersebut dapat dipahami dalam konteks kondisi politik dan sosial yang sulit pada masa itu serta hubungan mendalam Sayyidah Ma'sumah (sa) dengan imam zamannya.

Imam Jumat Aran dan Bidgol menyatakan: jika kita ingin menerjemahkan kehidupan wanita mulia tersebut dalam beberapa kalimat bagi para remaja putri masa kini, dapat dikatakan: kenalilah kedudukan luhur diri kalian, jangan mengukur kehormatan perempuan dengan standar propaganda budaya materialistis, jadilah suci namun jangan mengisolasi diri, hadirlah di tengah masyarakat, belajarlah, kuasailah keterampilan, dan berperanlah aktif; namun jagalah esensi kesucian dan kepribadian kalian, jadilah orang yang berilmu dan berwawasan, jangan menerima setiap perkataan dan jangan mengikuti setiap gelombang media, milikilah kemampuan analisis dan pembeda, bertanggungjawablah, jangan acuh tak acuh terhadap keluarga, masyarakat, kaum tertindas, masa depan negara, dan nilai-nilai agama, jadilah penolong bagi agama Allah dan Ahlulbait (as), serta jagalah identitas dan kehormatan kalian dari berbagai kerusakan budaya.

Hujjatul Islam wal Muslimin Farhang menyebut Qom sebagai warisan abadi seorang wanita muda, Sayyidah Ma'sumah (sa), dan menambahkan: salah satu buah paling indah dari kehidupan Sayyidah Ma'sumah (sa) adalah bahwa hari ini jutaan manusia mendapatkan pengetahuan, spiritualitas, dan harapan di sisi makam sucinya yang bercahaya.

Imam Jumat Aran dan Bidgol menegaskan: sebagaimana disebutkan secara jelas dalam teks ziarah Sayyidah Ma'sumah (sa), siapa pun yang berziarah ke makam suci tersebut dengan penuh pengetahuan (ma'rifat), maka surga akan menjadi wajib baginya dan ia akan mendapatkan syafaat.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha